pelatihan pesantren filsafat

terimakasih atas kepercayaan anda ke pesantren filsafat...jika anda berminat mengadakan training pesantren filsafat bisa menghubungi e-mail pesantren_filsafat@yahoo.co.id

biaya berkisar antara Rp 333.000 Rp 666.000 dan Rp 999.000...bergantung pada fasilitas dan jumlah peserta...biaya pelatihan belum termasuk biaya transportasi...

Hidup Bebas Sebebas-bebasnya


Beberapa filsuf Barat mengaku membenci anak-anak. Dalam pandangan mereka, pusat kehidupan anak-anak terletak pada lubang mulut yang menganga lebar, kalau bukan untuk menangis maka menuntut makanan. Anak-anak bukan manusia, tidak juga setengah manusia, melainkan setaraf dengan binatang yang hidup untuk makan. Binatang seperti anjing peliharaan malah mungkin lebih berguna untuk menjaga rumah, dan murah biaya pemeliharaan. Jika di Timur banyak anak berarti berkah, di Barat tambah beban. Jean-Paul Sartre membenci masa kanak-kanaknya sendiri. Bukan karena ia berasal dari keluarga miskin dan masa kecil kurang bahagia, melainkan karena sebagai anak-anak ia merasa tidak memiliki kebebasan sama sekali. Permasalahan bukan terletak pada bahagia atau tidak bahagia—masa kanak-kanak bagi kebanyakan orang mungkin justru masa-masa paling membahagiakan—melainkan pada kebebasan. Kebebasan untuk melakukan apa saja tanpa harus ada alasan, kebebasan untuk menjadi bahagia atau sengsara!
Beberapa filsuf lainnya menentang pernikahan. Memilih untuk menikah berarti menyerahkan kebebasan yang dimiliki, padahal bagi banyak filsuf kebebasan bahkan lebih berharga dari nyawa sendiri. Menikah ibarat perangkap yang menjebak seseorang dalam lingkaran setan kehidupan: Setelah menikah Anda wajib bekerja siang-malam sepanjang tahun mencari nafkah buat keluarga, tak ada lagi waktu memikirkan diri sendiri. Sungguh tidak sepantasnya seorang filsuf menjadikan pernikahan sebagai pelabuhan terakhir kehidupan.

Bagaimanapun untuk menjadi filsuf tak perlu sedramatis contoh di atas. Anda diperkenankan membangun keluarga impian sendiri: Istri cantik setia pintar masak, anak-anak yang lucu dan pintar. Tapi sebagai filsuf Anda tak boleh terikat dengan mereka, begitu pun Anda tak boleh mengikat mereka! Bayangkan induk bebek yang amat mencintai anak-anaknya. Apapun yang mereka inginkan dikabulkan, ke mana-mana berenang bersama-sama. Suatu hari, seluruh keluarganya mati dimakan buaya! Induk bebek berkotek-kotek sesaat, lalu berlalu. Kembali terbang bebas ke angkasa, membawa luka gigitan buaya di sayap kirinya.

Seni Menikmati Hidup


Dulu, di era tahun 1970-80-an, perjalanan panjang via darat Jawa-Sumatera merupakan pengalaman yang menyenangkan: Udara segar, jalan lancar, pemandangan spektakuler, dan orang-orang tersenyum. Di atas kapal terdapat juru foto yang siap mengabadikan gambar kita sekeluarga.
Lain dulu lain pula sekarang, saat ini waktu adalah segalanya. Semakin cepat sampai tujuan semakin bagus. Jalan tol dibangun, mobil berkecepatan tinggi, dan jadwal pelayaran padat. Di atas kapal kita terduduk lesu, menunggu selama tiga jam dalam ruangan ber AC sambil nonton TV yang gambarnya buram.
Orang-orang tempo dulu, dengan kesederhanaannya, ternyata lebih tahu cara menikmati hidup daripada kita.

Seni menikmati hidup jauh lebih penting daripada teknik mencari uang. Dengan uang seseorang memang bisa membeli berbagai makanan enak, tapi apa lacur bila kadar kolesterol kita tinggi? Makanan paling enak adalah makanan yang dimakan saat lapar dan sudah keburu habis sebelum kita kenyang. Sungguh menyedihkan melihat gaya hidup orang-orang kota yang terjebak dalam lingkaran setan kehidupan: Semakin besar uang yang mereka peroleh, justru semakin besar pula pengeluaran mereka karena tuntutan gaya hidup. Kekayaan tiba-tiba menjadi barometer kebahagiaan.

Seorang filsuf dituntut mampu menikmati hidup sebagaimana adanya, merasa bahagia bersama kebahagiaan itu sendiri. Rahasia hidup bahagia adalah "hidup" saat ini. Jika Anda pengangguran, mainlah gitar di siang hari sebarkan keceriaan di mana-mana. Daripada jadi pengangguran yang stres lebih baik jadi pengangguran yang bahagia; Jika Anda pejuang yang harus banting-tulang demi keluarga di kampung, maka bekerjalah sambil bernyanyi. Korporasi-korporasi serakah boleh saja memeras habis keringat, tapi tidak jiwa Anda.

Percaya Diri dengan Inferioritas Diri


Seorang siswa mengaku jatuh cinta; kasmaran pada boneka manekin cantik dari Jepang. Rutinitas sekolah sehari-hari yang membosankan, mendadak jadi penuh warna; malam-malam sunyi senyap, berubah jadi pesta pora. Semua terjadi hanya dengan membayangkan kehadiran sang dewi. Namun malang, ia tak pernah memiliki cukup keberanian menyatakan cinta. Tidak pantas! Baginya seorang putri hanya pantas disunting oleh pangeran. Jangan sampai darah biru tuan putri ternodai oleh manusia pinggiran.

Kisah cinta di atas sungguh ironis karena banyak alasan. Seorang pemuda semestinya berani mengungkapkan isi hati. Cerita cinta sekolah hanya terjadi sekali seumur hidup. Bukan masalah apabila cinta ditolak, setidaknya kita tak perlu menanggung beban seumur hidup bertanya-tanya apa gerangan yang mungkin terjadi?
Siswa dalam ilustrasi di atas melakukan kesalahan fatal karena membandingkan diri sendiri dengan wanita tambatan hati—ia ibarat mencoba membandingkan apel dan jeruk, mana yang lebih enak? Setiap individu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mustahil membandingkan satu sama lain. Kalaupun Anda ingin membandingkan seseorang dan kemudian memberikan penilaian, bandingkan keadaaannya kini dengan keadaaannya di masa lalu, lebih baik atau lebih buruk? Sudah berapa dalam potensi diri yang digalinya?

Seorang filsuf mesti memiliki kepercayaan diri yang tinggi, keberanian untuk menyatakan isi hati dan mengungkapkan kebenaran. Bukan karena ia merasa lebih superior dibanding orang awam, tapi justru karena ia tahu inferioritas diri. Barangsiapa yang telah mengenal dirinya, takkan dibuat bingung oleh orang lain; Mereka yang nyaman dengan kekurangan diri sendiri, tak bisa dibuat tertekan oleh orang lain. Sokrates menjadi orang paling bijak di Yunani bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ia orang yang paling tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa.

Biarkan Jenggot, Kumis dan Rambut Tumbuh Alami Apa Adanya


Para filsuf dunia sepanjang sejarah, mulai dari Sokrates di Barat hingga Lao Tze di Timur, sama-sama berambut gondrong, berkumis dan berjenggot tebal. Niscaya hal ini terjadi bukan karena mereka ingin tampil beda layaknya rocker atau malas mandi seperti preman. Para filsuf adalah orang-orang yang mencintai keindahan dan kedamaian, mereka menghabiskan hari-harinya mendengarkan burung-burung bernyanyi dan daun-daun berbisikan—dengan karakter seperti ini, mustahil mereka memanjangkan rambut karena malas cukuran atau mengejar popularitas.

Pangeran matahari dikelilingi oleh api yang menjalar-jalar hingga ratusan kilometer, sedang putri bulan nan ayu malu-malu memancarkan cahaya. Raja hutan bersurai lebat, kambing bandot berjenggot panjang, ayam jago berjambul dan berjengger. Hanya di dunia manusia, tanpa alasan jelas laki-laki memangkas habis mahkota kebanggaannya—bayangkan raja hutan tanpa surai lebatnya!?

Alam berbicara, dan filsuf mendengarkan. Biarkan rambut, kumis dan jenggot Anda tumbuh alami apa adanya. Tak perlu dicukur, atau sebaliknya diberikan obat subur: Ada yang memiliki gen kumis tipis, rambut botak di tengah, atau jenggot seperti rumput liar—semuanya menggambarkan karakter khas Anda. Jangan malu dengan identitas asli diri yang dianugerahkan alam secara spesial untuk Anda; Jangan sampai penampilan Anda sehari-hari menjadi bahan tertawaan alam semesta.

Bagi filsuf pertanyaannya bukan, kenapa Anda tidak cukuran? Melainkan justru, kenapa Anda bercukur?

Menjadi Nakhoda di Atas Kapal Sendiri


Filsafat India menggambarkan tubuh manusia layaknya kereta kuda yang sedang berlari. Jalan berbatu mensimbolkan obyek-obyek di luar diri, kereta sebagai tubuh manusia, kuda-kuda penarik sebagai indera, tali kekang sebagai pikiran manusia, kusir sebagai intelek, rasa nikmat sebagai ego, dan penumpang yang duduk di atas kereta sebagai Atman yang bersemayam di dalam diri setiap manusia. Tubuh manusia tersusun atas lima lapisan berturut-turut: lapisan tubuh, lapisan vital, lapisan mental, lapisan intelektual, lapisan kebahagiaan, hingga akhirnya lapisan kemerdekaan absolut. Di titik ini lah manusia meninggalkan lingkaran kesengsaraan kehidupan, dan bersatu dengan alam semesta.

Kini bayangkan tubuh Anda layaknya sebuah kapal siap pakai mengarungi lautan kehidupan. Beberapa di antara kita menjalani hidup layaknya kapal penangkap ikan. Pagi-pagi buta pergi melaut, lalu pulang siang hari membawa penghidupan hari itu. Kapal penangkap ikan yang lebih besar mengarungi lautan selama berminggu-minggu, melawan badai-menantang ombak, dan baru kembali ke dermaga setelah muatan penuh dengan ikan hasil tangkapan.
Sebagian kecil manusia memaknai hidup layaknya kapal penjelajah. Christopher Columbus, penjelajah lautan terbesar sepanjang masa, melakukan misi bunuh diri dengan mencoba menyeberangi samudera Atlantik. Dunia saat itu meyakini bumi datar seperti meja, mencoba menyeberangi samudera Atlantik sama saja berlayar ke pinggir meja dan jatuh ke dalam jurang tak berdasar. Columbus berhasil membuktikan filosofi bumi bulat, dan membawa pencerahan bagi seluruh umat manusia.

Kehidupan adalah perjalanan. Setiap perjalanan membutuhkan arah dan tujuan yang jelas, jika tidak maka perjalanan itu takkan memiliki arti sama sekali. Begitu pun dalam perjalanan, Anda akan menemui banyak cobaan dan godaan. Namun selama Anda berpegang teguh pada arah dan tujuan semula, kapal Anda takkan karam. Kenali lah seluk-beluk kapal Anda, dan jadilah nakhoda di atas kapal sendiri.

Pikiran Sebagai Pimpinan


Akal, hati dan fisik sama-sama memiliki mata: Mata fisik melihat materi, mata hati melihat rasa, sedang mata akal melihat pikiran. Mata fisik dan mata hati melihat objek di luar diri, dunia luar. Sifat pengetahuannya langsung; Sedang mata pikiran melihat ke dalam diri, dunia pikiran. Sifat pengetahuan tidak langsung. Terdapat jurang pemisah antara dunia luar dan dunia pikiran.
Mata fisik melihat pohon dengan jelas karena itu ia tidak lagi butuh penjelasan, sedang mata hati yang tertusuk panah asmara tak memerlukan alasan; Sebaliknya mata akal melihat dalam kegelapan, meraba-raba realitas, mencari-cari cahaya kebenaran. Karena itu akal butuh deskripsi pohon dan rasionalisasi cinta. Ketika akal-pikiran menjadi pimpinan atas hati dan fisik, maka pohon menjadi lebih dari sekadar onggokan kayu dan cinta mesti beralasan.

Filsuf menjadikan akal sebagai pemimpin bagi diri. Segala sesuatu mesti dengan pertimbangan akal-sehat. Akal berbeda dengan otak! Binatang dan komputer juga punya logika, tapi hanya manusia yang bermimpi. Kucing mustahil terbang seperti burung, namun manusia lewat mimpinya bisa terbang lebih tinggi dari burung—Plato memimpikan berdirinya negara ideal, dengan filsuf sebagai pemimpinnya. Ciri-ciri pemimpin-filsuf adalah, ia menolak menjadi pemimpin!?—Manusia juga memiliki kapabilitas mewujudkan mimpinya. Potensi akal-pikiran yang dimiliki manusia menjadikan kita anak emas Sang Pencipta.

Rene Descartes sampai pada satu kesimpulan, "Aku berpikir, maka aku ada." Selama hidup Anda masih dikendalikan oleh nafsu dan emosi, maka Anda belum jadi manusia seutuhnya. Pikiran membentuk tindakan, akumulasi tindakan menjadi karakter, dan karakter menentukan takdir Anda (Budha).

Menjadikan Wanita Cantik Sebagai Umpan Untuk Menangkap Ikan Yang Lebih Besar


Germo adalah laki-laki paling beruntung di dunia. Sepanjang hidupnya ia selalu dikelilingi wanita-wanita cantik dalam kondisi prima. Laki-laki pada umumnya diperbudak wanita cantik, germo sebaliknya mengeksploitasi wanita cantik demi keuntungan yang lebih besar. Seorang germo tidak boleh tergoda oleh kemolekan wanita-wanita koleksinya, ia harus mampu mengendalikan diri; germo dituntut berpikir jernih dalam kepungan godaan wanita-wanita cantik.

Para sufi, biksu dan pastur yang tidak menikah sepanjang hidupnya, ternyata tidak benar-benar anti-wanita. Layaknya topan badai, godaan wanita cantik justru akan merobohkan laki-laki yang berdiri kokoh menantang hukum alam. Sufi perlu memahami wanita, dalam rangka menjauhi wanita. Menurut Carl Jung, setiap lelaki memiliki aspek feminin dalam dirinya. Lelaki yang gagal berkomunikasi dengan sisi kewanitaan dalam diri cenderung mudah terperdaya wanita cantik.

Sebagai filsuf, Anda tidak boleh menyia-nyiakan wanita cantik dengan menjadikannya objek seksual semata; jadikan wanita cantik sebagai bait untuk menangkap ikan yang lebih besar. Ikan besar cuma mau terpancing bila umpannya cantik dan menarik. Ibnu Arabi menyelami keindahan Tuhan dalam tubuh Nizam—wanita cantik yang tak sengaja dilihatnya di depan Ka'bah; Dante Alighieri ditarik ke atas surga oleh Beatrice Portinari—wanita cantik yang telah menjadi obsesinya sejak usia muda.

Menikah Dengan Buku dan Melahirkan Karya Orisinal


Usai melayani pesanan pelanggan, seorang pedagang nasi goreng malam hari melanjutkan bacaannya. Dengan ditemani temaram purnama dan remang lampu 12 watt, ia tersenyum kagum mempelajari hukum tarik-menarik berusia ribuan tahun dalam buku best-seller internasional The Secret. Di tempat lain lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar samar-samar dari sebuah warung sembako kecil. Si pemilik berpikir, daripada buang-buang waktu menunggu pembeli lebih baik diisi dengan hal-hal positif.

Ketika seseorang mencintai buku, maka akan selalu ada waktu dan alasan untuk membaca; sebaliknya, sebanyak apapun waktu luang dan uang yang Anda miliki akan sia-sia tanpa cinta. Hanya setelah Anda menjadi pembaca yang baik, Anda bisa menghasilkan karya yang baik pula sebagai konsekuensi logisnya. Ibarat menikah dengan wanita impian yang Anda cintai sepenuh hati, selanjutnya memiliki momongan tinggal masalah waktu. Kalau pun hasil karya Anda belum diterima masyarakat, tak jadi masalah karena ia buah hati hasil hubungan cinta Anda.

Carl Sagan pernah berkhayal, andai saja perpustakaan Iskandariah yang menampung karya-karya berharga para filsuf Yunani selama berabad-abad tidak dibakar habis oleh masyarakat Kristen pada abad 5 M, maka mungkin saja saat ini umat manusia sudah melakukan migrasi ke planet lain. Kerugian yang diakibatkan pembakaran buku secara semena-mena telah menyebabkan kemunduran umat manusia selama 500 tahun. Sebagai filsuf Anda mesti memiliki kesadaran bahwa, "Tanpa buku Tuhan bisu, ilmu pengetahuan buntu // Keadilan buta, sastra tak bernyawa // Filsafat stagnan dan segala sesuatunya berada dalam kegelapan." (Thomas V. Bartholin)

Memikirkan Hal-hal Yang Tak Terpikirkan Sebelumnya


Untuk menjadi filsuf tidak cukup sekadar banyak membaca dan rajin mengikuti seminar. Dengan cara ini paling banter Anda hanya akan meraih predikat profesor universitas ternama peraih hadiah nobel. Profesor menghimpun pikiran orang, sedang filsuf memikirkan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai filsuf Anda wajib menyediakan waktu khusus setiap harinya untuk merenung, cari inspirasi. Merenung berbeda dengan berkhayal: Khayalan berangkat dari angan-angan kosong, sedang renungan berpijak pada realitas. Tak perlu merenungkan hal-hal pelik dan terlampau jauh, seperti persediaan minyak dunia yang semakin menipis atau kemungkinan adanya kehidupan di galaksi lain. Cukup renungkan hal-hal sederhana di sekeliling Anda, tentang kucing yang mencuri ikan di meja makan dan pengemis yang meminta-minta di ujung jalan.

Filsuf ibarat entrepreneur dunia intelektual. Sebagai entrepreneur Anda mungkin tidak menghasilkan uang sebanyak manajer perusahaan besar, atau kehidupan seglamour eksekutif muda. Menjadi entrepreneur berarti menjadi bos perusahaan sendiri; Filsuf mungkin tidak memiliki kosakata secanggih profesor, tapi mereka adalah tuan rumah bagi pikiran sendiri. Filsuf memikirkan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya, sebagaimana entrepreneur menjajaki berbagai kemungkinan yang ada.

Tidak Ikut Terbalik Bersama Dunia Yang Terbalik


Dua sahabat berpisah saat memasuki gerbang kuliah. Tali ikatan persahabatan yang dibalut selama bertahun-tahun tak cukup kuat menahan beban panggilan masa depan. Sahabat pertama mengambil langkah pintar dengan mentaati perintah orang tua, menuntut ilmu hingga ke negeri seberang, membekali diri dengan tuntutan dunia kerja; Sahabat kedua nekad mengikuti suara hati, membongkar kedok kepalsuan dunia, menjadi Plato untuk abad baru. Kelak sahabat pertama akan memiliki segala yang bisa diimpikan seorang laki-laki, istri model, perusahaan sendiri, dan motor Harley; Sedang sahabat kedua menelan pil pahit kehidupan, bekerja serabut asal dapur mengepul, ditempeleng kenyataan dunia tak butuh Plato.

Menurut Plato, sejak lahir manusia sudah dipaksa melihat bayang-bayang di dinding gua. Di belakang mereka ada api berkobar-kobar, dan para budak berbaris memikul barang. Manusia-manusia gua menganggap bayang-bayang sebagai realitas. Seorang filsuf harus mampu melepas belenggu diri, lalu keluar dari gua, menyaksikan matahari berseri dan angin menyapa. Sahabat kedua kurang beruntung karena keluar di malam hari, ia menemukan dirinya berada dalam kegelapan mencekam dan guntur bersahutan.

Dunia sudah terbalik. Kita tahu kualitas lebih penting dari kuantitas, namun di sisi lain kita memuja-muja demokrasi; Kita sadar uang hanya sarana, namun ironisnya lima hari dalam seminggu justru kita gunakan untuk mencari uang. Dunia bukan cuma gila tapi benar-benar gila, sampai-sampai ia mengira orang waras yang gila. Seorang filsuf tidak boleh ikut terbalik bersama dunia yang terbalik, lebih baik dicap gila oleh orang gila daripada jadi gila betulan.

Melihat Keindahan Dalam Keburukan


Film Disney mendoktrin anak-anak bahwa nenek sihir itu buruk rupa dan busuk hati, sedangkan tuan putri berparas cantik dan mulia jiwanya. Film biru menyadarkan anak-anak, ternyata nenek sihir memiliki lekuk tubuh layaknya gitar Spanyol dan rintihan seindah dentingan piano.
Sedari kecil orang-orang tua telah menakut-nakuti kita dengan cerita-cerita seram seperti kuntilanak dan genderuwo. Konon katanya kuntilanak hanya keluar di malam hari, melompat dari satu pohon ke pohon lain, mencari ibu-ibu hamil untuk dimakan janinnya. Saat dewasa kita sadar, ternyata setan-iblis tidak pernah malu-malu menampakkan wajah, di televisi dan koran-koran. Atas nama modernitas, mereka bukan saja menggerogoti tubuh kita tapi juga masa depan anak-cucu.

Filsuf hidup dalam dunia simbol, bicara dalam bahasa simbol. Sebagai filsuf Anda tidak boleh meremehkan hal-hal yang nampaknya remeh. Anda harus mampu melihat esensi di balik eksistensi, hakikat dalam setiap penampakkan. Kebenaran paling tinggi justru kebenaran yang paling sederhana. Isaac Newton menemukan hukum gravitasi ketika sebuah apel jatuh dari pohon menimpa kepalanya; Albert Einstein menjelaskan kompleksitas hukum relativitas, ibarat audiens sedang melakukan perjalanan sehari-hari dengan kereta api.

Seorang filsuf harus mampu melihat keindahan dalam mahluk paling buruk, dan keburukan dalam kesempurnaan sekali pun. Suatu hari Tuhan menantang Musa untuk mencari keburukan di muka bumi. Musa berkeliling dunia, namun gagal menemukan mahluk buruk—bahkan dalam diri pelacur tua dan cacat sekali pun, masih terdapat secercah keindahan. Tuhan bersabda, "Sesungguhnya tidak lah kuciptakan segala sesuatu dalam kesia-siaan."

Buka Mata, Pasang Kuping, Tutup Mulut


Seorang sufi mengaku telah mencari Tuhan ke berbagai pelosok dunia, namun tak kunjung ditemukan. Akhirnya ia pasrah berhenti mencari, kembali ke kampung halaman. Tak dinyana Tuhan malah muncul sendiri, ia mendapati Tuhan dalam dirinya sendiri. Ternyata Tuhan tak pernah pergi ke mana-mana, Tuhan ada di mana-mana. Seseorang hanya perlu membuka diri supaya cahaya Tuhan bisa masuk. Menurut Suhrawardi al Maqtul, cahaya Tuhan adalah cahaya yang paling terang—saking terangnya Ia tak perlu diterangkan lagi.

Dalam filsafat Zen, semakin keras murid mencari kebenaran maka akan semakin jauh ia dari kebenaran: Katakanlah dalam keadaan normal seorang murid bisa menguasai Zen dalam jangka waktu kurang dari lima tahun, jika murid belajar keras maka 10 tahun, jika murid belajar lebih keras lagi siang dan malam maka bertambah pula jangka waktunya menjadi 15 tahun. Menurut guru Zen, paradoks ini terjadi karena satu mata sudah digunakan murid untuk mencari kebenaran sehingga hanya tersisa satu mata lagi untuk menerima kebenaran.

Tuhan ada di mana-mana, Anda hanya perlu membuka mata; alam sedang berbicara, Anda cukup mendengarkan. Yang membedakan filsuf dengan manusia kebanyakan adalah, filsuf melihat dengan lebih dalam dan mendengar dengan lebih peka. Acapkali bacaan-bacaan ilmiah, dogma-dogma agama, dan opini-opini populer malah menjadi noda hitam di hati dan pikiran yang menghalangi cahaya untuk masuk. Kosongkan gelas Anda, agar dapat menampung sebanyak mungkin air (Zen).

Konsisten dalam Keimanan Walau Dilanda Badai Kegalauan


Secara psikologis ketika seseorang dipaksa melakukan satu kegiatan rutin berulang-ulang setiap hari, maka ia akan tiba pada satu titik mempertanyakan arti rutinitas tersebut. Akal menuntut jawaban, jika diabaikan maka rutinitas tersebut kehilangan arti; Manusia menjadi tidak lebih dari sebuah mesin.
Anak pesantren yang terbiasa mandi jam empat pagi selama "karantina", mengalami shock saat harus hidup di kost-kostan universitas. Berbeda dengan pesantren, anak-anak kost terbiasa begadang semalam suntuk dan mandi sesaat sebelum masuk kelas. Lulusan pesantren mulai mempertanyakan arti rutinitasnya, masih relevankah kebiasaan mandi jam empat pagi!? Bukankah antrian kamar mandi sekarang tidak sepanjang dulu!? Bukankah mandi jam empat pagi tidak baik untuk kesehatan!? Anak pesantren yang bijak akan mengubah kebiasaan mandi jam empat pagi tanpa terpengaruh kebiasaan mandi sekali sehari.

Sekarang, pernahkah Anda bertanya pada diri, apa arti ibadah rutin yang Anda lakukan selama ini? Apakah Anda benar-benar beribadah karena Tuhan, ataukah hanya sekadar rutinitas sehari-hari seperti buang air besar? Apa maksud beribadah karena Tuhan? Bukankah Tuhan Maha Besar, dan karenanya tidak membutuhkan ibadah Anda? Benarkah Anda membutuhkan ibadah, atau jangan-jangan itu hanya ilusi yang muncul karena kebodohan Anda? Darimana Anda tahu metode ibadah Anda yang benar, dan agama lain salah? Bukankah masalah keimanan mustahil diverifikasi? Bagaimana mungkin hanya satu agama yang benar, lainnya salah? Bukankah semua agama mengajarkan kepada kebaikan? Jika semua agama mengajarkan kebaikan, lalu mengapa kenyataannya acapkali menjadi biang-kerok berbagai pertengkaran? Kalau sudah begini, bukankah dunia justru akan menjadi tempat yang lebih baik tanpa kehadiran agama!?

Apapun jawaban yang Anda hasilkan sebagai filsuf, konstruktif maupun deskruktif, tekankan pada diri sendiri satu hal: Jangan korbankan iman Anda hanya karena keragu-raguan! Sah-sah saja berganti keyakinan, namun hanya setelah Anda yakin akan kebenaran keyakinan yang baru.
Bayangkan pemain bola yang hendak mengeksekusi penalti. Selama latihan posisi favoritnya adalah bagian kanan atas gawang lawan. Namun sesaat sebelum eksekusi dirinya dilanda kegalauan, sepintas ia melihat penjaga gawang lawan sudah bisa menebak kebiasaan penaltinya. Otak memerintahkan bola tetap ditendang ke kanan atas sekeras mungkin, sedangkan insting sebagai pemain depan berpengalaman menyarankan bola ditendang ke kiri bawah dengan sedikit tipuan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, tapi satu hal yang pasti yakni: Jika eksekusi tersebut dilakukan dalam keragu-raguan besar kemungkinan bola malahan akan melenceng jauh dari sasaran. Sang maestro Roberto Baggio dalam final Piala dunia 1994 dan David Beckham di Piala Dunia 2006, gagal mengeksekusi penalti hanya karena ragu-ragu.

Iman adalah pertaruhan. Membuktikan keberadaan Tuhan sama mustahilnya dengan membuktikan ketidakberadaan Tuhan. Memilih beriman konsekuensi kecil dengan keuntungan tidak terbatas; Memilih ingkar keuntungan kecil dan konsekuensi neraka jahannam. Sekeping uang logam ditoss, sisi mana yang akan muncul? (Blaise Pascal)

Membunuh Tuhan


Berbeda dengan pendapat mayoritas antropolog yang menyatakan bahwa prototipe agama adalah politeisme, sebagai umat beriman kita justru meyakini Adam—sang manusia pertama—sebagai penganut paham monoteisme. Dalam monoteisme murni seperti ini, tidak ada kuil dan kultus dalam bentuk apapun; Tuhan terlalu tinggi untuk bisa dijangkau manusia. Seiring berjalannya waktu, Tuhan langit dirasakan terlalu jauh sehingga hilang dengan sendirinya; manusia berinisiatif menggantikan Tuhan langit dengan Tuhan-tuhan pagan yang lebih rendah dan membumi (Karen Armstrong). Muhammad dan ratusan nabi lain sebelumnya, diutus Tuhan menyerukan umat manusia supaya kembali pada monoteisme, maka Tuhan pagan pun dibunuh dan dihancurkan.

Para filsuf paling enggan berdebat dengan pemuka agama, karena sedikit-sedikit mereka mengatas-namakan Tuhan. Tuhan tidak bisa bicara sendiri, karena itu pemuka agama merasa perlu mengangkat diri sendiri sebagai juru bicara Tuhan. Filsuf menolak pandangan ini, Tuhan bicara dalam keheningan, manusia hanya perlu memahami bahasa-Nya dengan akal pikiran. Ayat-ayat Tuhan bukan hanya terdapat di kitab suci, tapi tersebar di alam semesta dan dalam diri manusia sendiri. Percuma bicara dengan pemuka agama, karena Tuhannya saja sudah beda: Tuhan mereka pasif, sedang Tuhan filsuf aktif berbicara. Dialog hanya mungkin terjadi bila salah-satu Tuhan dibunuh terlebih dahulu.

Friedrick Nietzsche suatu hari berlari menuju pasar, lalu di tengah-tengah kerumunan ia berteriak lantang, "Tuhan telah mati!" Filsuf perlu membunuh Tuhan, supaya sadar bahwa Tuhan tidak bisa dibunuh; Tuhan tidak bisa dibunuh, karena Tuhan tidak ada; Tuhan lebih dari ada, Tuhan Maha Ada.